FASISME (Masih Adakah?)

Saya mencoba mengutip Hugh Purcell untuk melihat ciri-ciri dari fasisme. Fasis berasal dari kata fascio yang mengacu pada makna pengabdian, loyalitas dan kepatuhan terhadap perintah dalam semua aspek kehidupan nasional. Kepatuhan ini timbul terhadap suatu golongan atau seorang pemimpin yang biasanya tumbuh dengan latar belakang kondisi sosial politik yang berantakan dari masyarakat tersebut. Artinya, kondisi sospol masyarakat sedang terpuruk dan ada segolongan pemimpin yang muncul yang membawa konsep-konsep pembaharuan yang memberi harapan kepada masyarakat yang sedang terpuruk itu. Lantas apa bedanya fasisme dengan situasi reformasi misalnya? Karena pada masa reformasi juga dapat muncul segolongan orang yang “reformis” yang membawa ide-ide perubahan. Bedanya,

pertama, fasisme itu totaliter; percaya bahwa kekuasaan ada di tangan negara atau sekelompok di mana kekuasaan itu harus total di atas semua aspek kehidupan masyarakatnya. Salah satu semboyan Jerman pd masa Nazi adalah “Ein Reich, Ein Volk, Ein Fuehrer” alias “Satu negara, satu bangsa dan satu pemimpin”.

Kedua, fasisme menggunakan simbologi yang kuat. Suatu simbol bersama yang mengikat masyarakat untuk tunduk di bawah satu kepemimpinan. Jerman pd masa Nazi menggunakan simbol keunggulan bangsa Arya. Jepang pd masa PD II percaya keunggulan mereka sebagai keturunan dewa matahari. Simbologi ini lantas membuat masyarakat percaya bahwa mereka lebih unggul dari orang lain. Dan mereka lantas membuat klasifikasi sosial, perbedaan perlakuan sampai yang terparah melakukan penindasan kepada mereka yang tidak diikat dalam satu simbol itu, alias kepada mereka yang dianggap lebih rendah. Sering fasisme menonjolkan kerinduan pada semangat kejayaan masa lampau dan memuja serta memutlakkan nilai tersebut.

Ketiga, fasisme menolak demokrasi, bahkan Mansour Fakih mengatakan kalau fasisme menolak liberalisme yang menekankan pada kebebasan individu dan persamaan antar manusia.

Keempat, karena tiga ciri sebelumnya, maka dalam operasionalnya kelompok fasis akan memerlukan “marketing” yang kuat; yaitu propaganda. Inti propagandanya diarahkan pada keunggulan kelompok (simbologi pemersatu), ancaman bahaya dari luar (baik yang betul2 ancaman maupun ancaman yang diada-adakan) – termasuk ancaman dari demokrasi, dan pentingnya ada kepatuhan total dari rakyat. Kepatuhan ini mengandaikan ada sebuah paham lengkap yang harus dipatuhi oleh rakyat dan tidak ada ruang untuk sikap kritis atau mempertanyakan paham tersebut. Karena sifat-sifat propaganda yang seperti itulah maka emosi masyarakat yang ingin dicapai oleh faham fasis, bukannya rakyat yang kritis, bukan rakyat yang mampu berpikir sendiri. Contoh-contoh rezim fasis sebagian besar adalah Nazi-Hitler, Italia-Mussolini, Spanyol-Falange dan Jepang ketika PD II.

Bagaimana Di Indonesia?

poin-poin diatas sedikit memberi gambaran bagaimana pola dari fasisme sebagai usaha totaliter agar rakyat tunduk dan patuh pada sang penguasa, di Indonesia wajah fasis tersembunyi oleh wajah-wajah pemimpin yang menyilaukan mata dan telinga dengan janji-janji yang muluk dan tetap rakyat lah yang menderita, fasisme versi baru dengan wajah penjilat yang bisa ditemukan di Indonesia.

Hitler kita tahu sebagai penjahat perang dengan beberapa pembantaian (Genosida) dan itu terjadi ketika perang dunia II berlangsung, sedangkan di Indonesia Genosida terjadi melalui oportunis sang penguasa ketika rezim sebelumnya tumbang karena banyaknya kebebasan yang terengut; namun,  sekarang ketika kebebasan itu kembali kepada rakyat, hak yang paling fundamental tersisih secara total yaitu ketika potensi alam yang ada pada diri manusia terhalang bahkan tidak bisa bergerak sesuai dengan ilmu yang dimiliki karena ketidakmampuan secara financial dalam membayar (registrasi) si empunya kekuasaan, dan akhirnya wajah bangsa ini seperti tanah kotor dengan raut muka yang cemberut karena sistem yang dibangun berdasarkan keserakahan dan tipu daya.

simbologi pemersatu masih menjadi senjata ampuh dalam mengelabui dan menyuarakan dukungan terhadap rakyat background nasionalisme, agama menjadi kata kunci dalam mengelabui rakyat, inilah wajah baru Genosida yang terjadi di Indonesia bukan pembantaian ras, etnik tetapi lebih buruk dari itu semua, karena suatu syarat tidak adanya amunisi (uang) dan koneksi orang dalam (penguasa); potensi itu tidak ada harganya dibandingkan dengan kebusukan sebagai pemilik modal dengan memiliki modal yang kuat sebagai andalanya (potensi) dengan mengesampingkan tanggung jawab dari potensi yang dimiliki. itulah yang menjadi penguasa dan menjadi budak penguasa, tersisihnya kesempatan dalam arus kolusi dan nepotisme yang berakibat  kematian karakter bagi si miskin, memang hal itu terjadi di depan mata kita, lebih dari separuh aktifitas birokrasi menjadi pelaku genosida model baru ini. Semua itu terjadi karena adanya kesempatan bagi penguasa yang diberikan rakyat untuk menaiki jabatan sang tuhan.

inilah wajah baru fasisme.,,.,.,

Categories: Arsip Impor | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: