Haul Ustadz Husein Al-Habsyi di Bangil Dipadati Ribuan Tamu

Haul atau peringatan tahunan wafat Ustadz Husein Al-Habsyi yang digelar hari ini (Ahad, 1/8), dihadiri lebih dari 2.500 tamu. Ketua Panitia Haul Ustadz Husein Al-Habsyi, Sirajudin, ketika dihubungi IRIB menjelaskan, “Para tamu yang menghadiri Haul Ust Husein Al-Habsyi di Bangil, datang dari berbagai penjuru nusantara, termasuk dari luar Jawa.”

Acara tahunan itu berlangsung sesuai jadwal dari pukul 08.30 hingga 12.15 WIB. Selain diisi pembacaan tahlil, acara haul itu juga dimeriahkan dengan pidato para pembicara. Cendekiawan muda, Musa Kazim Al-Habsyi, yang juga putra Ustadz Husein Al-Habsyi dalam pidatonya menjelaskan empat poin yang patut ditauladani dari figur ayahnya. Keempat poin itu adalah penekanan pada kesadaran ummat Islam, persatuan, pengenalan terhadap para musuh dan percaya akan kemenangan. Ketika menjelaskan poin percaya akan kemenangan, Musa Al-Habsyi mengatakan, “Poin terakhir itulah yang membuat Ust Husein Al-Habsyi tidak pernah lelah dan selalu optimis akan perjuangannya.”

Dalam sambutan lainnya, Ust Mohammad BSA, ulama dan orator yang juga pernah berguru dengan Ust Husein Al-Habsyi, mengatakan, “Ust Husein Al-Habsyi adalah figur istimewa.” Ust Mohammad BSA ketika berbicara tentang pengalamannya saat berguru kepada Ustadz Husein Al-Habsyi, mengatakan, “Ada beberapa poin penting yang melekat pada figur beliau. Beliau selalu menaruh perhatian luar biasa pada anak-anak muda dan selalu menekankan penghormatan pada waktu. “

Terkait poin penghormatan pada waktu, Ust Mohammad BSA menjelaskan pengalamannya bersama Ust Husein Al-Habsyi. Ia mengatakan, “Pada suatu waktu, Ust Husein tidak dapat mengajar pada waktunya, karena ada urusan mendadak di luar daerah. Akan tetapi Ust tetap berusaha mengajak saya yang saat itu adalah murid beliau, untuk belajar di atas mobil.” Lebih lanjut Ust Mohammad BSA menjelaskan, “Poin lain yang seringkali ditekankan Ust Husein Al-Habsyi adalah menuntut ilmu agama di samping ilmu-ilmu lainnya.”

Dalam acara itu, kyai kondang asal Kraksan, Mostofa Badruduja yang juga alumnus Yayasan Pesantren Islam (YAPI), ikut memeriahkan acara haul itu. Selain itu, santri YAPI, Said Novel, juga menampilkan orasi bahasa Arabnya di hadapan para tamu. Dalam acara itu juga ada pementasan puisi yang disampaikan oleh Zaid Alaydrus, salah satu staf pengajar YAPI.

Ustadz Husein Al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921 M. Pada usia yang masih belia beliau sudah harus berjuang sendiri setelah orang tuanya wafat. Pada tahun 1971 beliau mendirikan Pondok Pesantren di kota Bondowoso Jatim. Setelah itu, beliau hijrah ke Bangil dan mendirikan Yayasan Pesantren Islam (YAPI ) di kota itu . Karena bertambahnya murid yang cukup banyak dan tuntutan saat itu, beliau akhimya membuka Pesantren-Putra di Kenep-Beji, Pesantren-Putri dan TK di Kota Bangil.

Setelah berpuluh tahun mengabdikan diri demi Islam dalam dunia pendidikan dan dakwah, Ustadz Husein Al-Habsyi memenuhi panggilan Ilahi pada hari Jum’at, 2 Sya’ban 1414/ 14 Januari 1994 di rumahnya Jl. Lumba-lumba Bangil. Beliau dimakamkan pada hari Sabtu 3 Sya’ban 1414/15 Januari 1994 di belakang Masjid Tsaqalain yang terletak di komplek Pesantren Putra “Al-Ma’hadul Islami” YAPI, Desa Kenep Beji Pasuruan. (IRIB, AR/AHF)

About these ads
Categories: AGAMA, SEJARAH, Sosial - Budaya, TOKOH | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,525 other followers

%d bloggers like this: